Creative Seconds

Karena Inspirasi Tak Butuh Waktu Lama

Produk Ramah Lingkungan Unilever: Upaya Nyata atau Sekadar Greenwashing?

Unilever, sebagai salah satu perusahaan consumer goods terbesar di dunia, memiliki pengaruh signifikan terhadap lingkungan. Dengan jangkauan global dan portofolio produk yang luas, setiap keputusan yang diambil oleh Unilever dalam hal keberlanjutan (sustainability) memiliki dampak besar. Dalam beberapa tahun terakhir, Unilever semakin gencar mempromosikan produk-produk ramah lingkungan, yang diklaim mengurangi dampak negatif terhadap bumi. Namun, klaim ini tidak selalu diterima tanpa kritik. Muncul pertanyaan, apakah upaya Unilever ini benar-benar komitmen tulus terhadap keberlanjutan, atau hanya sekadar greenwashing – praktik memberikan kesan ramah lingkungan tanpa perubahan substansial dalam proses produksi dan bahan baku? Artikel ini akan menelusuri berbagai produk ramah lingkungan Unilever, menganalisis inisiatif keberlanjutan mereka, serta mengevaluasi apakah upaya ini sejalan dengan praktik bisnis secara keseluruhan.

Portofolio Produk Berkelanjutan Unilever: Apa Saja yang Ditawarkan?

Unilever menawarkan berbagai macam produk yang diklaim ramah lingkungan di berbagai kategori, mulai dari perawatan pribadi hingga makanan dan minuman. Beberapa contoh yang sering dipromosikan antara lain:

  • Sabun Mandi dan Sampo: Beberapa merek sabun mandi dan sampo Unilever, seperti Dove dan Love Beauty and Planet, menawarkan produk dengan kemasan yang terbuat dari bahan daur ulang atau dapat didaur ulang. Love Beauty and Planet, khususnya, menonjolkan penggunaan bahan-bahan alami dan kemasan yang 100% terbuat dari plastik daur ulang (PCR) di beberapa produknya. Selain itu, mereka juga menawarkan konsentrat isi ulang untuk mengurangi penggunaan plastik.

  • Deterjen dan Pembersih Rumah Tangga: Unilever memiliki beberapa merek deterjen dan pembersih rumah tangga yang berfokus pada keberlanjutan. Misalnya, Seventh Generation (yang diakuisisi oleh Unilever) menawarkan produk-produk pembersih rumah tangga yang terbuat dari bahan-bahan nabati dan kemasan daur ulang. Merek lain, seperti Surf excel, juga menawarkan deterjen konsentrat dan kemasan yang lebih kecil untuk mengurangi penggunaan air dan bahan kemasan.

  • Makanan dan Minuman: Unilever juga menawarkan produk makanan dan minuman yang berupaya mengurangi dampak lingkungan. Salah satu contohnya adalah teh Lipton yang bersertifikasi Rainforest Alliance, yang menunjukkan bahwa teh tersebut diproduksi dengan praktik pertanian yang berkelanjutan. Selain itu, Unilever juga berinvestasi dalam produk makanan nabati melalui merek seperti The Vegetarian Butcher, untuk mengurangi emisi karbon yang terkait dengan produksi daging.

  • Produk Es Krim: Dalam kategori es krim, Unilever telah memperkenalkan kemasan yang lebih berkelanjutan, termasuk wadah yang terbuat dari kertas bersertifikasi Forest Stewardship Council (FSC) dan mengurangi penggunaan plastik. Mereka juga berupaya mengurangi jejak karbon dalam rantai pasokan es krim mereka.

Klaim-klaim ini didukung oleh berbagai sertifikasi dan inisiatif yang diikuti oleh Unilever, seperti sertifikasi Rainforest Alliance, FSC, dan komitmen untuk menggunakan 100% kemasan yang dapat didaur ulang, digunakan kembali, atau dikomposkan pada tahun 2025.

Inisiatif Keberlanjutan Unilever: Beyond the Product

Upaya Unilever untuk menjadi lebih berkelanjutan tidak hanya terbatas pada produk-produk ramah lingkungan. Mereka juga memiliki berbagai inisiatif yang lebih luas, termasuk:

  • Sustainable Living Plan (USLP): Diluncurkan pada tahun 2010, USLP merupakan rencana ambisius yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan lebih dari satu miliar orang, mengurangi dampak lingkungan mereka hingga separuhnya, dan meningkatkan mata pencaharian jutaan orang. Meskipun USLP telah berakhir, prinsip-prinsipnya masih menjadi panduan bagi strategi keberlanjutan Unilever.

  • Komitmen Iklim: Unilever telah menetapkan target untuk mencapai emisi nol bersih di seluruh rantai nilainya pada tahun 2039. Ini mencakup pengurangan emisi dari operasi mereka sendiri, rantai pasokan, dan penggunaan produk oleh konsumen. Mereka berinvestasi dalam energi terbarukan, efisiensi energi, dan solusi berbasis alam untuk mengurangi emisi karbon.

  • Pengelolaan Air: Unilever menyadari pentingnya pengelolaan air yang berkelanjutan dan telah mengambil langkah-langkah untuk mengurangi penggunaan air dalam operasi mereka dan rantai pasokan. Mereka juga bekerja sama dengan masyarakat lokal untuk meningkatkan akses ke air bersih dan sanitasi.

  • Pengurangan Limbah: Unilever berkomitmen untuk mengurangi limbah di seluruh rantai nilainya. Mereka berupaya untuk mendesain ulang kemasan agar lebih mudah didaur ulang atau digunakan kembali, dan bekerja sama dengan mitra untuk meningkatkan infrastruktur daur ulang.

  • Pengadaan Bahan Baku Berkelanjutan: Unilever berupaya untuk menggunakan bahan baku yang bersumber secara berkelanjutan, seperti minyak sawit, teh, dan kakao. Mereka bekerja sama dengan petani dan pemasok untuk meningkatkan praktik pertanian yang berkelanjutan dan melindungi hutan.

Inisiatif-inisiatif ini menunjukkan bahwa Unilever memiliki komitmen yang serius untuk mengatasi masalah keberlanjutan. Namun, implementasi dan dampak dari inisiatif ini masih perlu dievaluasi secara kritis.

Kritik Terhadap Klaim Ramah Lingkungan Unilever: Membongkar Mitos?

Meskipun Unilever telah membuat kemajuan dalam keberlanjutan, klaim mereka tentang produk ramah lingkungan seringkali menghadapi kritik. Beberapa isu yang sering diangkat antara lain:

  • Greenwashing:* Kritikus berpendapat bahwa beberapa produk Unilever hanya menampilkan greenwashing*, yaitu memberikan kesan ramah lingkungan tanpa perubahan substansial dalam praktik bisnis. Misalnya, penggunaan plastik daur ulang (PCR) dalam kemasan hanya mengurangi dampak lingkungan jika sistem daur ulang berfungsi dengan baik dan konsumen benar-benar mendaur ulang kemasan tersebut.

  • Ketergantungan pada Plastik: Meskipun Unilever berupaya untuk mengurangi penggunaan plastik, mereka masih sangat bergantung pada plastik sebagai bahan kemasan. Produksi dan pembuangan plastik berkontribusi terhadap polusi lingkungan dan perubahan iklim.

  • Dampak dari Rantai Pasokan: Rantai pasokan Unilever sangat kompleks dan melibatkan banyak pemasok di seluruh dunia. Memastikan keberlanjutan di seluruh rantai pasokan merupakan tantangan besar, dan praktik-praktik yang tidak berkelanjutan masih dapat terjadi di beberapa bagian rantai pasokan.

  • Deforestasi dan Minyak Sawit: Produksi minyak sawit merupakan penyebab utama deforestasi di beberapa wilayah, dan Unilever telah dikritik karena menggunakan minyak sawit yang tidak bersumber secara berkelanjutan. Meskipun Unilever telah berkomitmen untuk menggunakan 100% minyak sawit berkelanjutan, implementasi dan verifikasi komitmen ini masih menjadi perhatian.

  • Target yang Tidak Tercapai: Beberapa target keberlanjutan yang ditetapkan oleh Unilever dalam USLP tidak tercapai. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang seberapa serius Unilever dalam mencapai tujuan keberlanjutan mereka.

Kritik-kritik ini menyoroti perlunya transparansi dan akuntabilitas yang lebih besar dalam upaya keberlanjutan Unilever. Konsumen dan pemangku kepentingan lainnya perlu menuntut bukti yang kuat bahwa produk-produk yang diklaim ramah lingkungan benar-benar memberikan manfaat lingkungan yang signifikan.

Standar Sertifikasi dan Label Ramah Lingkungan: Apa yang Perlu Diketahui?

Untuk membantu konsumen membuat pilihan yang lebih berkelanjutan, berbagai standar sertifikasi dan label ramah lingkungan tersedia. Beberapa standar yang relevan dengan produk Unilever antara lain:

  • Rainforest Alliance: Sertifikasi ini menunjukkan bahwa produk pertanian, seperti teh dan kakao, diproduksi dengan praktik pertanian yang berkelanjutan yang melindungi lingkungan dan meningkatkan mata pencaharian petani.

  • Forest Stewardship Council (FSC): Sertifikasi ini memastikan bahwa produk kayu dan kertas berasal dari hutan yang dikelola secara bertanggung jawab.

  • Cradle to Cradle Certified: Sertifikasi ini mengevaluasi produk berdasarkan dampak lingkungannya sepanjang siklus hidupnya, dari bahan baku hingga akhir masa pakai.

  • B Corp Certification: Sertifikasi ini diberikan kepada perusahaan yang memenuhi standar tinggi kinerja sosial dan lingkungan, akuntabilitas, dan transparansi.

Memahami arti dari berbagai label dan sertifikasi ini dapat membantu konsumen membuat pilihan yang lebih tepat dan mendukung perusahaan yang benar-benar berkomitmen terhadap keberlanjutan. Namun, penting untuk dicatat bahwa tidak semua label diciptakan sama, dan beberapa label mungkin lebih kredibel dan ketat daripada yang lain. Konsumen perlu melakukan riset sendiri untuk memastikan bahwa mereka memahami arti dari label tertentu dan bahwa label tersebut sesuai dengan nilai-nilai mereka.

Transparansi dan Akuntabilitas: Kunci untuk Membangun Kepercayaan

Untuk mengatasi kritik dan membangun kepercayaan dengan konsumen dan pemangku kepentingan lainnya, Unilever perlu meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dalam upaya keberlanjutan mereka. Ini termasuk:

  • Pengungkapan Informasi yang Lebih Lengkap: Unilever perlu mengungkapkan informasi yang lebih rinci tentang dampak lingkungan dari produk-produk mereka, termasuk jejak karbon, penggunaan air, dan limbah yang dihasilkan.

  • Verifikasi Independen: Unilever perlu mengizinkan pihak ketiga yang independen untuk memverifikasi klaim keberlanjutan mereka dan memastikan bahwa mereka memenuhi standar yang relevan.

  • Keterlibatan Pemangku Kepentingan: Unilever perlu melibatkan pemangku kepentingan, termasuk konsumen, LSM, dan masyarakat lokal, dalam proses pengambilan keputusan mereka terkait keberlanjutan.

  • Akuntabilitas atas Target: Unilever perlu bertanggung jawab atas pencapaian target keberlanjutan mereka dan menjelaskan mengapa target tertentu tidak tercapai.

Dengan meningkatkan transparansi dan akuntabilitas, Unilever dapat menunjukkan bahwa mereka serius tentang keberlanjutan dan bahwa mereka bersedia untuk diawasi oleh konsumen dan pemangku kepentingan lainnya. Ini akan membantu membangun kepercayaan dan memastikan bahwa upaya keberlanjutan mereka benar-benar memberikan manfaat lingkungan yang signifikan.

Produk Ramah Lingkungan Unilever: Upaya Nyata atau Sekadar Greenwashing?
Scroll to top